Dua Piring Nasi Panas

Standar

Seribu kata tidak akan meninggalkan kesan yang begitu dalam dibandingkan dengan satu perbuatan.” Henrik Ibsen

 

Malam itu, kami sekeluarga makan, aku, bapak ibu dan kedua adikku. Seingatku waktu itu aku masi menjadi siswi Sekolah Menegah Pertama. Ya kami makan, tidak taunya nasi tinggal sedikit, tapi masih cukup untuk makan kami berlima.

Sebenarnya nafsu makan seorang remaja sepertiku sedang besar-besarnya, sehingga aku masih merasakan lapar, demikian juga dengan adik kedua ku. Aku makan lauk yang banyak pula. bapak bertanya, “kalian masih lapar?”

“Ya pak..” aku menjawab berharap ada nasi lagi.

“Sebentar bapak buatkan”

Aduh.. sebenarnya aku tidak tega dan merasa bersalah. Kenapa aku tidak melarang.. ah tapi biarkan saja. Bapak menanak nasi, sementara ibu sudah tidak mau melakukan apapun karena sudah lelah oleh tugas ibu rumah tangga seharian. Beliau tiduran di depan televisi. Sedangkan aku tiduran karena sudah mengantuk, jam menunjukkan pukul 10 malam.

Ya aku sudah mengantuk sekali, adikku juga sudah tidur mungkin.

Beberapa saat kemudian sekitar setengah jam lebih. bapak membangunkanku,

“Katanya masih lapar? Itu nasinya sudah matang”

Pada waktu itu kami belum punya rice cooker untuk membuat nasi dengan praktis jadi masih memakai kayu bakar untuk menanak nasi. Ya, kami memang tinggal di sebuah desa di sebuah kota yang sepi.

Aku berpikir sejenak, aku mengantuk dan rasa lapar itu sudah tidak lagi terasa sama sekali.

Aku ingin tidur.. cuma itu.

Tapi aku merasa bersalah, tepatnya kasihan terhadap bapak ku yang sudah susah payah menanak nasi malam2 seperti itu, hanya demi mengisi perut anak-anaknya yang lapar. Adikku sudah bermimpi mungkin, aku segera bangun.

Jujur waktu itu aku sudah kenyang, karena banyak lauk yang aku makan sebagai pengganti nasi.Tapi ada rasa tak enak di sana.Aku menuju meja makan, di sana sudah tersedia 2 piring nasi yang panas.

Bapak menyajikannya untuk kami. “Bangunkan adikmu mungkin masih lapar”

“Tidak usah pak, dia sudah lelap tidur”

Aku makan nasi itu dengan tempe sisa makan malam tadi, dengan perut kenyang aku berusaha makan lagi.

Aku merasa kekenyangan sudah tidak kuat padahal nasi masih setengah piring, tapi aku harus makan, aku segera menghabiskannya.

Ya, terimakasih bapak. kau mengajarkanku tentang perhatian dan kepedulian terhadap keluarga. Kau melakukan hal kecil itu yang sangat menyentuh hatiku. Dan aku belajar untuk menghargai setiap perbuatan dan sikap baik dari orang lain kepadaku, karenamu.

Setelah malam itu, kadang sebelum tidur aku sering teringat “kau menanak nasi malam-malam untuk kami.” Dan sampai saat ini aku mengingat dan menuliskannya.. Aku menangis setiap mengingatnya seperti saat ini.

Terimakasih Bapak,

About ngenesgilak

Gue Kartikasari. Bukan roti dari Bandung, bukan nama truk maupun angkot umum, mungkin nama gue pasaran banget kali ya? -_-", tapi gue bangga nama ini dikasi dari bapak gue tercinta. :'). di sini gue luapin semua kisah kengenesan hidup gue, selama gue masi bernafas,*cieee Let's read them guys!^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s